Tradisi Budaya Jepang – Bunraku adalah teater boneka Jepang. Ini adalah seni pertunjukan yang unik dengan tradisi yang kembali populer setelah beberapa ratus tahun berlalu. Bentuk boneka yang digunakan dalam teater Bunraku sangat hidup dan kompleks. Setiap bagian pada boneka ini bisa bergerak teruama pada bagian kepala mereka. Bergantung pada permainannya, wayang mungkin memiliki kemampuan untuk berubah menjadi setan atau hantu. Beberapa jenis kerajinan tangan terlibat dalam pembuatan boneka ini, pada bagian kepala dirancang oleh spesialis yang sangat terampil. Tubuh dan kostum mereka juga melalui kerajinan khusus.

Simak Juga : Tradisi Memasang Teru Teru Bozu Untuk Memohon Cuaca Cerah

artforia.comYang unik dalam menggunakan nya adalah setiap boneka membutuhkan tiga dalang yaitu untuk kepala, lengan dan kaki. Dikatakan bahwa dibutuhkan 30 tahun untuk sepenuhnya menguasai seni ini. Pada puncaknya di era Edo, Bunraku adalah salah satu bentuk hiburan utama di Jepang. Teater-teaternya dikelilingi oleh distrik makanan, minuman dan kesenangan. Saat ini, ada sekitar 30 rombongan Bunraku di Jepang. Teater Bunraku Nasional di Osaka adalah tempat utama yang bekerja untuk menjaga tradisi Bunraku tetap hidup.

Tingkatan dalang diatur hierarki yang ketat, berdasarkan tingkat keterampilan dan pengetahuan. Dalang paling berpengalaman menggerakkan bagian kepala dan lengan kanan. Dalang dengan pengalaman di bawahnya bertugas menggerakkan lengan kiri, sedangkan bagian kaki digerakkan dalang yang paling yunior. Dalang kepala mengenakan geta berhak tinggi (20 cm hingga 50 cm) dari kayu untuk mengimbangi posisi dalang ketiga yang menggerakkan bagian kaki boneka. Kementerian Pendidikan Jepang menetapkan bunraku sebagai Warisan Agung Budaya Nonbendawi. UNESCO menetapkan bunraku sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dalam daftar yang diterbitkan tahun 2003.

artforia.comartforia.comKesenian ini bermula dari pementasan ningyo johruri oleh seniman Uemura Bunrakuken I di Osaka sehingga diberi nama “bunraku”. Sebelumnya, kesenian ini juga disebut ayatsuri jōruri shibai (sandiwara johruri ayatsuri), dan baru secara resmi dinamakan bunraku sejak akhir zaman Meiji (1868-1912).

%d bloggers like this: