2

Berita Lifestyle Jepang – Bukan hal yang aneh lagi memang jika Jepang digambarkan sebagai negara yang penuh dengan keanehan atau keunikan dalam hal budaya maupun teknologi, namun sebagai negara dengan tingkat ekonomi yang tinggi dan maju, Jepang merupakan negara dengan tingkat kejahatan terendah di Asia, kejahatan dengan kekerasan sangat jarang terjadi di negeri sakura ini, mayoritas penduduknya juga merupakan pekerja keras dan sangat sopan, sehingga umumnya kehidupan masyarakat Jepang itu adalah rapi dan efisien. Namun semua hal-hal positif terkadang memiliki sisik negatif, kehidupan Jepang yang dikenal harmonis tanpa adanya kriminal tersebut harus tercoreng dengan beberap hal.

Benarkah Rumor Rasisme Terhadap Warga Asing Soal Tempat Tinggal Di Jepang ?
image : ginabearsblog.com

Mulai dari tingkat bunuh diri yang tinggi, pelecehan online, perbandingan gender yang sering sekali merugikan pihak perempuan, sehingga memang masih banyak tugas yang harus dilakukan Jepang untuk menjadi lebih baik. Sebelum krisis pandemik virus COVID-19 menyebar, Jepang mengalami rekor tertinggi masuknya penduduk dan wisatawan asing, karyawan-karyawan atau pekerja asing juga meningkat jumlahnya dalam beberapa industri di Jepang, namun belakangan ini yang semakin terlihat adalah, para expat atau penduduk asing yang tinggal di Jepang ini mengaku mengalami diskriminasi perumahan atau tempat tinggal, dalam kata lain seperti tindakan rasisme secara tidak langsung. Menurut survey yang ada 40% warga asing telah mengalami diskriminasi ini untuk hal tempat tinggal.

Simak Juga : Nama-Nama Jepang Populer Pada Tahun 2020 & 2021

Bahkan seorang wanita asal Filipina pernah menceritakan pengalamannya kepada sebuah media berita terkenal Nikkei Asian Review atau disebut Nihon Keizai Shimbun, jika dirinya pernah mendapatkan perlakuan berbeda dalam urusan tempat tinggalnya, dia mengatakan jika tuan tanah atau pemilik tanah menolak mereka dengan alasan mereka bukan penduduk tetap atau penduduk Jepang dan tidak memenuhi persyaratan.

Benarkah Rumor Rasisme Terhadap Warga Asing Soal Tempat Tinggal Di Jepang ?
image : realestate.co.jp

Perusahaan real estate Jepang memang diketahui sering beroperasi di bawah sistem penjamin. Penjamin disini maksudnya adalah seorang atau organisasi yang mengasuransikan kontrak sewa, mereka menanggung biaya sewa atau ganti rugi yang belum terbayarkan. Hal ini menjadi masalah utamanya, karena banyak warga asing yang kesulitan untuk menemukan penjamin Jepang hingga hal inilah yang membuat warga asing cukup sulit untuk menyewa sebuah tempat tinggal atau rumah.

Alasan Mengapa Tuan Tanah Banyak Menolak Warga Asing

Meskipun secara sekilas terlihat hal ini seperti sebuah tindakan rasisme, namun situasinya bisa terbilang lebih rumit daripada sekedar tindakan rasisme semata. Tuan tanah mungkin merasa cemas tentang perlunya memberikan informasi dengan bahasa Inggris untuk menjelaskan kebijakan perumahan yang terkadang memang sangat rumit dijelaskan. Sementara sebagian warga asing memang belum lancar atau fasih dalam berkomunikasi dengan bahasa Jepang. Dalam survei yang dilakukan kepada badan Asosiasi Manajemen Properti Jepang, sebesar 60% mengatakan mereka enggan menerima orang asing, dan sebagian besar tersebut mengatakan karena komunikasi.

Menurut Toshiyuki Nagai, juru bicara perusahaan real estate di Jepang, masalah komunikasi antara penyewa dan tuan tanah atau tetangga memang terkadang sering menyebabkan masalah yang lebih dalam dan rumit, sehingga sebagian besar tuan tanah menganggap semua warga asing tidak dapat memahami bahasa Jepang. Namun beberapa ada juga yang lebih menjurus terhadap sikap warga asing yang dianggap menyebabkan masalah dan tidak cocok dengan gaya hidup masyarakat Jepang, mereka takut banyak warga asing yang melanggar peraturan-peraturan lokal seperti membuang sampah dan melepas sepatu.

Tidak sampai disitu saja, kekhawatiran dalam kontraktual dan finansial juga merupakan kendala besar, menurut artikel yang pernah diberitakan dalam media berita Japan Times, banyak tuan tanah mengeluh jika penyewa asing banyak yang melanggar kontrak, seperti tiba-tiba mengosongkan rumah sewa mereka tanpa memberikan kabar, atau pembayaran sewa selalu terlambat. Meskipun kondisi ini membuat kedua belah pihak merasa kecewa dan dirugikan, situasinya memang tidak akan berubah dalam waktu dekat, dan membutuhkan sebuah arahan dan panduan yang lebih baik dari pemerintah agar hubungan antara penyewa asing dengan tuan tanah di Jepang berjalan lancar dan saling memahami.

Source : grapee.jp/en

 Tulis Artikel

Like it? Share with your friends!

2
Kira Nakayama 秋本健太
Currently working at Artforia.

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: