0   +   9   =  

Seni Budaya Jepang – Pedang Katana merupakan sebuah senjata khas negara Jepang dan juga telah terkenal di seluruh dunia, Menjadi sebuah sejarah yang terkenal memang membuat pedang Katana menjadi salah satu daya tarik Jepang terhadap dunia luar, terdapat sejarah lain didalamnya yang semakin membuat pedang tradisional Jepang ini semakin terkenal yaitu adanya 2 pedang katana legendaris Masamune & Muramasa, dimana kedua pedang katana ini telah banyak dijadikan sebuah tema pada sebuah film, game, manga, anime dan lain-lain.

Simak Juga : Kisah Peperangan Besar Dan-No-Ura Yang Juga Titik Awal Dimulainya Era Shongun

artforia.comKedua pedang katana tersebut dibuat oleh 2 orang pandai pedang yang berbeda, dimulai dari catatan sejarah ketika itu seorang bernama Masamune (正宗), juga dikenal sebagai Gorō Nyūdō Masamune 五郎 入道 正宗, Priest Gorō Masamune, c.1264-1343 M, dikenal sebagai pembuat pedang terbaik di Jepang pada jamannya. Dia menciptakan pedang dan belati, yang dikenal di Jepang yang masing-masing dikenal sebagai tachi dan tantō. Namun memang tidak ada sebuah tanggal pasti yang diketahui tentang kehidupan Masamune dan memang kisahnya menjadi mirip sebuah legenda. Secara umum dan cerita rakyat bahwa ia membuat sebagian besar pedangnya pada akhir abad 13 dan awal 14, 1288-1328.

Menurut cerita sejarah Masamune diyakini bekerja di Provinsi Sagami selama periode terakhir Kamakura (1288-1328), dan diperkirakan dirinya dilatih oleh pembuat pedang dari provinsi Bizen dan Yamashiro, seperti Saburo Kunimune, Awataguchi Kunitsuna dan Shintōgo Kunimitsu. Dia juga merupakan seorang ayah dari Hikoshiro Sadamune yang nantinya juga memiliki ketenaran seperti ayahnya.

artforia.comartforia.comLegenda antara pedang Masamune dan Muramasa memang memiliki banyak versi tetapi ada satu yang cukup terkenal dan menonjol, yaitu berawal dari seorang bernama Muramasa Sengo yang juga si pembuat pedang Muramasa ini menantang gurunya, Masamune, untuk melihat siapa yang bisa membuat pedang yang lebih baik. Selama pembuatan mereka berdua bekerja tanpa kenal lelah sampai akhirnya kedua pedang itu selesai dibuat, dan tentu mereka membutuhkan uji coba. Kontesnya adalah menancapkan pedangnya pada aliran sungai kecil dengan mata pedang yang menghadap ke arus.  Dimulai dari pedang ciptaan Muramasa yang diberi nama Juuchi Yosamu (十 千 夜寒, “10.000 Cold Nights”) memperoleh hasil yang sangat luar biasa yaitu dapat memotong segala sesuatu yang melewati pedangnya seperti ikan dan daun. Melihat itu Masamune sangat terkesan dengan karya muridnya lalu menurunkan pedang hasil ciptaannya dengan nama Yawarakai-Te (柔 ら か い 手, “Tender Hands”) namun hasilnya hanya daun yang dipotong. Tetapi ikan-ikan berenang melewatinya tidak terpotong dan suara hembusan angin yang lewatinya lebih halus daripada Muramasa, melihat hasil itu Muramasa mulai mencemooh gurunya karena menurutnya tidak lebih baik dari dirinya dan pedangnya yang tidak memotong apapun, namun sambil tersenyum pada dirinya sendiri, Masamune menarik pedangnya, mengeringkannya, dan menyarungkannya. Lalu datang seorang biksu yang juga telah menyaksikan keseluruhan kontes tersebut dan biksu tersebut kemudian mulai menjelaskan apa yang telah dilihatnya.

“Yang pertama pedang Muramasa adalah pedang yang bagus, tapi itu adalah pedang yang haus akan darah, senjata yang jahat, karena tidak dapat membedakan siapa yang harus dan tidak dipotong namun yang kedua yaitu ciptaan Masamune adalah yang terbaik dari keduanya, karena tidak perlu memotong yang tidak bersalah”.

Pada versi lain diceritakan bila kedua bilah pedang tersebut memotong daun yang turun di sungai dengan sangat baik, namun pada pedang Muramasa dedaunannya menempel pada mata pedang dan hasil potongannya juga tidak beraturan sedangkan Masamune memotong dengan lembut dan sangat rapih sehingga tidak ada daun menempel pada mata pedang dan bentuk daun masih seperti aslinya, potongan-potongan daun yang berantakan terpotong oleh Muramasa di perbaiki oleh potongan Masamune yang berada dibawahnya.

%d bloggers like this: