Berita Lifestyle Jepang – Terdapat sebuah kejadian viral saat akhir bulan Desember 2018 lalu, sebuah surat kabar nasional Jepang yaitu Yomiuri Shimbun melaporkan bila seorang Pendeta di Prefektur Fukui diberhentikan oleh seorang polisi ketika dirinya mengendarai sebuah mobil karena dianggap mengenakan jubah pendetanya tersebut dapat menghalangi pergerakannya saat mengemudi. Tentu sebuah prosedur keamanan yang biasa dilakukan oleh para pihak keamanan lalu lintas kepada para pengendara, namun yang membuatnya menjadi viral adalah para biksu-biksu lain di Twitter mulai berargumen dan memberikan pendapatnya tentang hal tersebut.

Protes Para Biksu Mengenai Prosedur Larangan Berkendara Dengan Jubah Menjadi Viral Di Sosial Media Jepang !

image : Star2

Simak Juga : Ini Dia Rahasia Sehat Orang Jepang Dengan 7 Tumbuhan Herbal Musim Semi !

Protes Para Biksu Mengenai Prosedur Larangan Berkendara Dengan Jubah Menjadi Viral Di Sosial Media Jepang !

image : Kyodonews

Sebagian besar pendeta atau biksu-biksu ini mengatakan bila jubah mereka sama sekali tidak menghalangi mereka dalam beraktivitas atau bahkan mengemudi. Uniknya lagi mereka menampilkan sebuah demonstrasi video untuk membuktikan bila jubah seorang pendeta atau biksu tidak menghalangi untuk berbagai hal, bahkan beberapa aktivitas yang terlihat sulit untuk dilakukan, aksi mendukung pendeta ini mereka tambahkan dengan hashtag #僧衣 で で き る も ん, yang berarti “Aku bisa melakukannya dengan jubah.”

Yang pertama berasal dari Kojun Asada, yang memperlihatkan kemampuannya menggunakan alat transportasi modern yaitu Waveboard sambil menggunakan jubah pendetanya.

“Sangat mungkin untuk melakukan hal seperti ini saat mengenakan jubah, jadi tidak mungkin mereka menghalangi jalan,” tulisnya di Twitter.

Tidak mau kalah, Zuiho Yokoyama juga memposting video keterampilannya menggunakan alat skipping, bahkan dalam video tersebut dirinya menampilkan beberapa teknik lompatan yang sulit sambil menggunakan jubah pendeta.

“Tidak yakin dengan nomornya, tapi ya, aku bisa melakukan loncatan ini dengan mengenakan jubah seorang biksu,” kata Yokoyama di Twitternya.

Terlihat juga sepasang saudara yaitu Tosshan dan Henmo yang menampilkan atraksi jugling dan juga skipping dengan menggunakan jubah mereka.

“Jadi mereka mengatakan jubah [pendeta] adalah penghalang untuk mengemudi, tetapi Anda tahu, kaki kita bergerak dengan sangat baik,” Tosshan menuliskannya dibawah videonya.

“Jika aku bisa melakukan ini, menyetir pastilah lebih mudah, kan?” Tweeted Henmo.

Namun ternyata tidak hanya datang dari para Pendeta/Biarawan Buddha saja yang menampilkan dukungan mereka dengan hashtag itu, tetapi juga datang dari seorang pendeta Kristiani yang ikut menjelaskan tentang masalah ini di Jepang.

“Saya sebenarnya seorang pendeta Kristen, tetapi saya mengenakan pakaian ini ketika saya pergi ke krematorium. Jika Anda para bhikkhu Buddhis merasa hak anda dicurangi maka saya bersama Anda disini ikut membela! “Katanya.

Source : Kyodonews, Twitter, Gaijinpot

%d bloggers like this: