A password will be e-mailed to you.

Berita Lifestyle Jepang – Seorang pria asal Suria yang tinggal di Jepang membuka sebuah sekolah di Bangladesh untuk para kaum muda muslim Rohingya yang mengungsi setelah adanya konflik dari Myanmar, pria tersebut bernama Mazen Salim, berumur 43 tahun yang menjalankan bisnis perdagangan dan tinggal di kota Takaoka prefektur Toyama. Sekolah tersebut dia namakan Toyama Terakoya yang berada di Cox’s Bazar, sebuah kota di Bangladesh bagian tenggara, dekat perbatasan dengan Myanmar.

Pengusaha Asal Suriah Di Jepang Bangun Sekolah Di Bangladesh

image : kyodonews.net

Simak Juga : Jepang Promosikan Budaya Bersepeda Dalam Kampanye Ramah Lingkungan

Memang telah banyak dikabarkan bila hampir 700.000 Muslim Rohingnya yang dulunya menetap di Myanmar telah mengungsi ke Bangladesh sejak bulan Agustus tahun 2017 lalu, hal ini terjadi karena adanya konflik yang terjadi antara kedua belah pihak. Myanmar dan Bangladesh sebenarnya telah setuju untuk memulai proses repatriasi pada bulan Januari lalu tetapi sejak itu tertunda oleh faktor logistik.

Pengusaha Asal Suriah Di Jepang Bangun Sekolah Di Bangladesh

image : kyodonews.net

Sekolah yang didirikan oleh Mazen Salim ini telah memiliki 300 siswa, separuhnya masih buta huruf dan terdapat 4 guru yang juga merupakan pengungsi yang juga tinggal di kamp-kamp pengungsi. Kelas bahasa Bengali, Burma dan kelas matematika akan diadakan untuk anak laki-laki dan perempuan berusia 7 hingga 13 tahun dengan total jam belajar sebanyak 4 jam dalam sehari selama 5 hari dalam seminggu.

Dari biaya yang digunakan sebanyak 1,2 juta Yen (sekitar 151jt Rupiah) awalnya diperlukan untuk membangun gedung sekolah sederhana yang terbuat dari bambu dan beberapa dinding besi dan untuk membuat sekolah, Secara keseluruhan Salim secara pribadi menanggung biaya sebesar 400.000 yen dan sisanya merupakan dari sumbangan yang terkumpul. Salim, yang memimpin Toyama Muslim Center, telah banyak membantu Muslim dan juga non-Muslim. Salah satunya adalah membangun sekolah dasar di negara asalnya Suriah yang memang sampai saat ini masih dalam kondisi terpuruk yang menyebabkan banyak masyarakat terlantar.

Dirinya juga mengumpulkan sumbangan dan menyediakan makanan untuk orang-orang setelah adanya badai hujan lebat pada bulan Juli lalu yang menghancurkan kota Asakura di Prefektur Fukuoka, bagian barat daya Jepang. Setelah adanya permintaan bantuan untuk orang-orang Rohingya di Bangladesh, Salim mulai membuat pengaturan dengan orang-orang di kamp-kamp pengungsi sejak bulan Januari dan mengumpulkan buku-buku pelajaran dan materi sekolah lainnya yang dibutuhkan.

Ketika sekolah merayakan pembukaannya pada tanggal 15 Mei 2018 lalu, Salim juga berkunjung ke sana dan disambut meriah oleh anak-anak Rohingnya. Namun dirinya mengatakan operasi sekolah masih jauh dari stabil. Dengan biaya operasi sekolah yang membutuhkan sekitar 600.000 yen setiap tahun, beberapa siswa banyak yang khawatir apakah mereka dapat belajar di sekolah tersebut untuk tahun-tahun berikutnya, Salim menjelaskan. Salim berencana untuk terus berusaha agar sekolah ini dapat beroperasi dengan baik sehingga akan terus mengumpulkan sumbangan dan beberapa langkah pribadi yang bisa dirinya berikan.

Source : Kyodo News, Japan Today

%d bloggers like this: