A password will be e-mailed to you.

Berita Lifestyle Jepang – Mungkin sebagian pembaca sempat mengetahui kasus penyerangan besar oleh teroris di Jepang pada tahun 90an, pendiri sekte AUM Shinrikyo yaitu Shoko Asahara merupakan dalang utama dari sejumlah pembunuhan termasuk serangan gas sarin pada tahun 1995 yang berlokasi di kereta bawah tanah Tokyo, setelah mendekam di penjara bersama beberapa bawahannya kini dikabarkan bila dirinya akan menjalankan eksekusi mati pada tanggal 6 Juli 2018 lalu bersama dengan enam mantan anggota senior sekte tersebut, hal ini disampaikan langsung oleh pihak Kementerian Kehakiman Jepang.

Pelaku Terorisme Dan Aliran Sesat Shinrikyo Telah Jalani Hukuman Mati

image : kyodonews.net

Asahara, 63, yang nama aslinya adalah Chizuo Matsumoto, memang telah dijatuhi hukuman mati lebih dari satu dekade lalu karena mendalangi serangan kereta bawah tanah dan tindakan lain yang mengakibatkan kematian 29 orang dengan total korban lainnya lebih dari 6.500 korban. Dia termasuk di antara 13 pelaku yang dijatuhi hukuman mati sehubungan dengan serangkaian kejahatan yang dilakukan oleh aliran sesat yang juga dianggap sebagai teroris oleh pemerintahan Jepang.

Simak Juga : Faktor Penyebab Banyaknya Korban Dalam Bencana Hujan Lebat Jepang

Enam lainnya dieksekusi pada hari yang sama adalah Yoshihiro Inoue, 48, Tomomitsu Niimi, 54, Tomomasa Nakagawa, 55, Kiyohide Hayakawa, 68, Masami Tsuchiya, 53, dan Seiichi Endo, 58. Asahara dieksekusi di pusat penahanan Tokyo, sementara yang lain dihukum gantung di pusat penahanan yang sama seperti di Osaka, Hiroshima dan Fukuoka.

“Hukuman mati mereka telah diputuskan setelah pertimbangan yang cukup panjang di pengadilan,” Menteri Kehakiman Yoko Kamikawa mengatakan pada konferensi pers di sore hari, menambahkan bahwa dia membuat pertimbangan hati-hati sebelum memerintahkan eksekusi.

Pelaku Terorisme Dan Aliran Sesat Shinrikyo Telah Jalani Hukuman Mati

image : kyodonews.net

Pada bulan Maret, tujuh dari 13 tahanan hukuman mati AUM dipindahkan dari pusat penahanan Tokyo ke fasilitas lain di seluruh negeri, mengipasi spekulasi bahwa mereka dapat dieksekusi kapan saja. Beberapa dari mereka yang dipindahkan tidak termasuk di antara tujuh yang digantung pada hari Jumat lalu.

Inoue, yang termasuk di antara tujuh yang ditransfer, sempat mengajukan persidangan ulang pada saat itu. Karena Jepang biasanya tidak akan mengeksekusi orang-orang yang mencari pengadilan ulang.

Namun langkah hukuman mati ini memang sempat menarik kritik tajam dari beberapa anggota parlemen serta Amnesty International, yang menyebut hukuman mati sangat melanggar HAM. Tetapi Kamikawa juga mengatakan bahwa hukuman mati adalah sebuah keputusan yang “tidak dapat dihindari” untuk kejahatan keji seperti itu.

Pelaku Terorisme Dan Aliran Sesat Shinrikyo Telah Jalani Hukuman Mati

image : kyodonews.net

Berikut 3 Kriminal terbesar yang dilakukan oleh aliran sesat AUM Shinrikyo

Serangan Gas Sarin Kereta Bawah Tanah Tokyo

Di bawah instruksi dari pemimpin AUM Shoko Asahara, 15 anggota senior dari kelompok tersebut berkomplot untuk membawa kantong plastik berisi cairan sarin ke lima kereta bawah tanah Tokyo dan melepaskan racun dengan menusuk tas dengan payung, sehingga meracuni penumpang lainnya yang saat itu sedang jam sibuk pagi pada tanggal 20 Maret 1995 .

Serangan itu, salah satu insiden terorisme terburuk di Jepang, yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 6.200 masyarakat sekitar.

Serangan sarin Matsumoto

Di bawah instruksi dari Asahara, beberapa anggota AUM melepaskan gas sarin dari kendaraan yang dipasang dengan perangkat penyemprot di tempat parkir di distrik perumahan kota Matsumoto, Prefektur Nagano, Jepang bagian tengah, pada malam tanggal 27 Juni 1994.

Serangan itu menewaskan delapan orang dan melukai lebih dari 100 orang.

Pembunuhan Pengacara Sakamoto

Di bawah instruksi dari Asahara, enam anggota AUM mencekik pengacara Tsutsumi Sakamoto yang berusia 33 tahun, yang telah membantu orang tua yang berusaha membebaskan anak-anak mereka dari kontrol kultus aliran Shinrikyo, serta istrinya yang berusia 29 tahun, Satoko dan putra sulung mereka Tatsuhiko yang baru berumur 1 tahun, enam anggota AUM tersebut melaksanakan pembunuhan dengan menyelinap ke rumah sang pengacara di Yokohama, pada jam-jam subuh tanggal 4 November 1989.

Source : Kyodo News

%d bloggers like this: