6

Berita Musik Jepang – Pada Februari lalu, grup Band Asal Jepang the GazettE resmi mencapai hari jadi mereka yang ke-18. the GazettE telah mengeluarkan total 9 album selama 18 tahun mereka berkarya di dunia musik. Album terakhir mereka, “NINTH” , telah rilis pada Juni 2018 lalu, dan the GazettE berjanji untuk terus berkembang di setiap album barunya. Nah, memperingati ulang tahun ke-18 mereka, yuk simak ulasan tentang 5 album terbaik the GazettE dekade ini!

Simak Juga : Bingung Gak Bisa Clubbing ? Lihat VIRTUAL NIGHTCLUB “RHYME SO” AJA!
deviantart.com/sparky-cool

1. TOXIC

Album ini merupakan album ke-5 mereka yang rilis pada tahun 2011. TOXIC berisi 14 lagu, termasuk empat single terbaik mereka sebelumnya, yaitu “SHIVER“, RED“, “PLEDGE“, dan “VORTEX“. Namun sayang, single favorit saya “REMEMBER THE URGE” tak masuk di album ini. Ciri khas awal yang paling kentara dari album ini inilah semua judul lagunya tertulis menggunakan bahasa Inggris. Ini merupakan album pertama the GazettE tanpa lagu dengan judul bahasa Jepang.

Dalam album ini, the GazettE mulai bereksperimen genre musik electronic yang sedang popular saat itu. Terbukti dengan banyaknya sampel-sampel elektronik yang ada di setiap lagu, memberikan suasana seolah the GazettE sedang berkolaborasi dengan DJ ternama Skrillex. Selain itu, dengan mayoritas lirik bahasa Inggris menandai bahwa the GazettE telah siap melebarkan pasarnya ke kancah internasional, dan telah keluar dari zona nyaman dengan ikut berkembang mengikuti selera musik dunia.

Lagu-lagu di TOXIC cenderung keras dengan beat yang cepat, kecuali “PLEDGE” dan “UNTITLED” yang memang menjadi ballads di album ini. Bisa dibilang di album ini genre mereka sedikit beralih menjadi Nu-Metal/Alternative Metal. Mayoritas lagu di album ini mengunakan tuning drop-B. Dan pada album ini, untuk pertama kalinya the GazettE menggunakan tuning drop-A pada lagu-lagunya (“THE SUICIDE CIRCUS“, “MY DEVIL ON THE BED” dan “PSYCOPATH“), yang menandai mereka juga telah mengeksplor range nada baru yang pasti lebih rendah dan heavy.

Secara keseluruhan, TOXIC  bisa dibilang langkah awal yang bagus bagi the GazettE dalam mengawali dekade ke-2 mereka di dunia musik. Beberapa lagu seperti “SLUDGY CULT“, “THE SUICIDE CIRCUS” dan “TOMORROW NEVER DIES” benar-benar menjadi “racun” bagi para penggemarnya, bahkan masih menjadi langganan dalam penampilan live mereka hingga sekarang. Dalam album ini, the GazettE seperti memperkenalkan wajah baru mereka, dengan membawakan sound baru yang lebih modern dan siap untuk melebarkan sayapnya ke kancah musik internasional.

 

Pinterest

2. DIVISION

Belum genap satu tahun setelah perilisan TOXIC, the GazettE langsung merilis album ke-6 mereka, DIVISION. DIVISON seakan rilis sebagai penyempurnaan dari konsep eksperimental yang ada di TOXIC. Mungkin mepetnya waktu antara TOXIC dan DIVISION menjadikan album ini menjadi album pertama yang rilis tanpa didahului single. Namun menurut saya, DIVISION merupakan salah satu album dengan konsep terkeren yang pernah dirilis oleh the GazettE. Album yang bertemakan “pemisahan” atau “kembaran” ini rilis dalam 2 bentuk, yaitu regular edition dan limited edition. Yang menarik, limited edition-nya berbentuk double album. Terdapat dua disk yang masing-masing berisi tujuh lagu, dimana pada disk pertama berisi lagu-lagu dengan judul dalam bahasa Jepang dan di disc kedua berisi lagu-lagu dengan judul bahasa Inggris. Sepertinya the GazettE ingin memisahkan disk pertama sebagai yang berisi lagu-lagu beraliran Alternative Metal dan Nu-Metal dan disk kedua yang berisi lagu-lagu Industrial Metal yang lebih electronic dan modern.

the GazettE berhasil menyajikan konsep yang paling “ngena” di album ini. DIVISION tetap mempertahankan nuansa electronic yang kental, namun kali ini jauh lebih matang. Ditambah melanjutkan eksplorasi tuning drop-A menjadikan beat drop dan breakdown di lagu mereka sangat rendah, nyaris seperti Skrillex heavy metal. Lirik-lirik bahasa Inggris dan riff catchy khas “the new” the GazettE menjadikan lagu-lagu seperti “GABRIEL ON THE GALLOWS” dan “ATTITUDE” tak hanya sebagai track andalan di album ini, namun juga headliner langganan di setiap live mereka. Selain lagu-lagu heavy, lagu-lagu ballads seperti “Kagefumi” dan “Kago no Sanagi” juga tak kalah apiknya. Belum lagi “YOIN” yang merupakan lagu favorit saya, dengan melodi horor khas Jepang menjadikan lagu ini sangat dark dan emosional. Album ini menjadi penebus bagi mereka yang mungkin kurang puas dengan materi eksperimental di TOXIC. Pokoknya album ini sangat paket komplit sekali! Konsep yang matang, visual yang menarik, serta kombinasi alunan musik keras dan electronic-nya membuat kita tak henti-hentinya menggoyangkan kepala. 9/10!

 

Pinterest

3. BEAUTIFUL DEFORMITY

Lagi-lagi, the GazettE seperti tidak berhenti membombardir kita dengan karya-karya baru. Belum genap satu tahun setelah perilisan DIVISION, the GazettE langsung merilis album ke-7 mereka, BEAUTIFUL DEFORMITY. Sebelumnya, album ini didahului dengan single “FADELESS” yang sedikit memberikan bocoran tentang materi mereka berikutnya. Tidak disangka, alih-alih melanjutkan nuansa elektronik dan heavy seperti di dua album sebelum nya, the GazettE memutuskan untuk kembali ke sound awal mereka. “FADELESS” bernuansa rock and roll, namun tetap terkesan heavy dengan riff-riff khas the GazettE, yang sedikit mengingatkan kita pada lagu “Silly God Disco” di album NIL. Ya, memang sang vokalis, Ruki, menyatakan BEAUTIFUL DEFORMITY akan sedikit bernostalgia ke masa awal mereka, mengkombinasikan unsur-unsur yang ada di NIL, Stacked Rubbish, DIM sampai TOXIC.

Judul album ini sendiri merupakan penggabungan sebuah karya seni yang tidak biasa, hingga menjadi sebuah representasi fisik dari band yang tidak pernah berkompromi dalam berekspresi (Tokyohive, 2013). Sesuai dengan judulnya, album ini bertemakan “kecacatan yang cantik”, yang tergambar di cover album-nya yang cukup unik. Terdapat bagian tubuh dari lima jenis hewan (serigala, harimau, gagak, burung hantu, dan kambing) yang digabungkan dan kemudian membentuk kepala suatu “makhluk buas”. Hal ini seolah menggambarkan kelima personil band yang memiliki ciri khas berbeda-beda, namun dapat bersatu dan membentuk sound the GazettE di album BEAUTIFUL DEFORMITY ini dengan karakter mereka masing-masing, sehingga memberi warna tersendiri dalam lagu-lagunya.

Manifestasi kelima personil the GazettE dalam potongan bagian tubuh hewan di BEAUTIFUL DEFORMITY.
Salah satu keunikan BEAUTIFUL DEFORMITY adalah album ini ini dibuka dan ditutup oleh dua SE. SE pertama “MALFORMED BOX” secara mulus menjadi pengantar dan bersambung ke intro “INSIDE BEAST”. Sementara “CODA” dengan transisi yang sangat mulus menutup “TO DAZZLING DARKNESS”, membuat SE ini menjadi outro album the GazettE terbaik menurut saya. “INSIDE BEAST” yang menjadi track utama di album ini juga tidak tampil mengecewakan. Intro elektronik yang masih kental suasana “TOXIC”, drum ala marching band, dan serta slap bass membuat lagu ini sangat groovy namun tetap heavy ala the GazettE. Dan bagi yang mengira album ini akan lebih keras dari dua album sebelumnya, jawabannya salah! Album ini tampil sedikit lebih ringan, karena the GazettE lebih banyak menggunakan tuning drop-B dan bahkan drop-C untuk track-track headbanger seperti “INSIDE BEAST” dan “UNTIL IT BURNS OUT “, tanpa ada lagu dengan tuning drop-A sama sekali. Selain lagu-lagu headbanger-nya, “Last Heaven” sebagai lagu ballad utama mengalun sangat indah, dengan konsep akustik, mirip seperti “Shiroki Yuutsu” di album DIM, dan “Redo”, yang sangat ringan dan jazzy ini sedikit mengingatkan kita pada “Gentle Lie” di album Stacked Rubbish. Lalu, lagu ini ditutup dengan “TO DAZZLING DARKNESS” yang membuat kalian, penggemar lagu DIM serasa diobati kerinduannya dengan nuansa gelap yang khas.

Secara keseluruhan, album ini merupakan paket komplit bagi kalian yang ingin mendengarkan kombinasi antara suara the GazettE yang lama dengan yang baru. Banyak style dari album-album lama yang kembali dibawakan, tentunya dengan sound yang lebih modern dan dewasa. Namun, album ini terkesan underrated karena kekurangannya yang tidak memiliki killer track, selain mungkin hanya “INSIDE BEAST” yang masih sering dibawakan sampai saat ini.

 

Pinterest

4. DOGMA

Setelah tiga tahun berturut-turut mengeluarkan album, the GazettE berhenti sebentar untuk menyiapkan “proyek” yang lebih besar. Dan kali ini, the GazettE lebih gencar untuk mempromosikannya melalui teaser teaser yang dirilis di channel youtubenya. Sebuah video dengan judul

5. STACKED RUBBISH

Meskipun STACKED RUBBISH bisa diartikan sebagai tumpukan sampah, namun album ini pun menyampaikan hal sebaliknya. Materi-materi di Album ini seakan sungguh-sungguh adiktif bagi penikmat musik the GazettE. Berisi genre yang sungguh-sungguh bervariasi, namun terdengar sungguh-sungguh Timeless, sound di album ini seakan merangkum seluruh karya the GazettE dari yang lawas sampai yang terupdate. Di Album ini mereka tak sedang mencari jati diri musik seperti apa yang ingin mereka mainkan, seperti pada 2 album sebelumnya. Dan juga mereka tak terdengar monoton, atau pun terlalu banyak bereksperimen seperti pada 4 album setelahnya. Ini yaitu kadar album yang Ideal untuk the GazettE. Melainkan memang mereka patut berkembang dan senantiasa mengerjakan hal baru. STACKED RUBBISH akan senantiasa menjadi STACKED RUBBISH, dan mungkin itu juga yang mereka inginkan.

 Tulis Artikel

Like it? Share with your friends!

6

iseng2 main musik

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: