A password will be e-mailed to you.

Seni Budaya Jepang – Olahraga Sumo memang merupakan salah satu olahraga tradisional dan merupakan aktivitas olahraga yang memiliki sejarah besar bagi negara Jepang, Sumo telah dilakukan sejak lama di Jepang dan bahkan Sumo memiliki ikatan besar dalam ritual kepercayaan agama Shinto, oleh karena itu menjadi seorang atlit Sumo memang tidak semudah yang dibayangkan. Tidak hanya proses fisik saja yang harus tercapai namun ada beberapa syarat lain yang harus dipenuhi dalam menjadi seorang atlit olahraga ini, mungkin menjadi pertanyaan dari banyak orang mengapa olahraga Sumo hanya diikuti oleh para pria saja, hal ini tentu memiliki sebuah alasan dan sejarah didalamnya.

Kontroversi Wanita Dalam Dunia Olahraga Sumo

image : travlbuddy.com

Sumo dalam lingkungan profesional memang secara tradisi tidak memperbolehkan seorang perempuan menjadi bagian dari kompetisi dan upacara. Bahkan perempuan tidak diizinkan masuk atau menyentuh arena gulat sumo atau disebut Dohyō, hal ini merupakan pengaruh dari kepercayaan Shinto tentang kemurnian arena Dohyō.

Karena tradisi ini yang memang sangat sakral dan turun menurun membuat seorang Gubernur Osaka yang merupakan seorang wanita pada tahun 2000 hingga 2008 hanya berdiri di samping arena ketika memberikan pidato dalam pembukaan pertandingan profesional Sumo. Beliau pernah berulang kali menentang kebijakan JSA dengan meminta diizinkan untuk memenuhi peran pentingnya sebagai Gubernur. Namun permintaannya tersebut berulang kali ditolak hingga akhir masa lima tahun jabatannya.

Simak Juga : Sepatu Tradisional Jepang Yang Disebut Jika Tabi

Kontroversi Wanita Dalam Dunia Olahraga Sumo

image : savvytokyo.com

Terjadi sebuah kejadian unik pada April 2018, selama acara sumo non-turnamen di Prefektur Kyoto, dua wanita bergegas memberikan bantuan kepada walikota Maizuru ketika dia pingsan di tengah-tengah arena Dohyō ketika memberikan pidatonya. Ketika para wanita tersebut itu ingin memberikan perawatan darurat, seorang wasit berulang kali meminta mereka untuk meninggalkan ring. Ketua Asosiasi Sumo kemudian meminta maaf atas apa yang terjadi pada kejadian tersebut, dan mengatakan bahwa dirinya sangat menghargai upaya kedua perempuan tersebut.

Sampai saat ini memang cukup banyak masyarakat Jepang yang mengkritik kebijakan “Hanya-laki-laki” dalam olahraga Sumo, karena dianggap sangat diskriminasi dan opresif. Secara umum, wanita di dunia sumo hanya diharapkan untuk menjadi istri suportif dari pegulat atau seorang penonton, Pandangan dari pihak JSA sendiri adalah bahwa ini adalah tradisi yang telah dipelihara dengan baik selama berabad-abad, jadi itu akan menjadi aib bagi semua leluhur bila mereka mengubahnya.

Kontroversi Wanita Dalam Dunia Olahraga Sumo

image : savvytokyo.com

Dilain sisi, dimulai pada abad ke-18 bentuk sumo perempuan atau yang disebut Onnazumo telah dilakukan di beberapa daerah di Jepang. Namun saat itu tontonan olahraga sumo wanita hanya dianggap seperti sebuah tempat hiburan malam. Tetapi di beberapa wilayah di Jepang, sumo perempuan memiliki peran serius dalam ritual Shinto tertentu. Pada beberapa tahun-tahun kemudian sampai saat ini sumo wanita masih tidak dianggap menjadi sebuah olahraga yang serius atau spesial di Jepang, dan juga dilarang untuk mengadakan sebuah pertandingan yang melebihi batas amatir.

%d bloggers like this: